
Sendiri, hatiku sebatang kara. Sejak lahir, ku memulai hidup dengan penuh kemiskinan akan kasih sayang. Mereka membekaskan rasa rindu sangat dalam padaku, sekaligus meninggalkanku ke pelukan Nya. Roh samudra merasuk dalam ragaku, seketika diri ini terombang-ambing tak tentu arah. Oh leluhur, tanpamu aku tak akan berdiri dengan dua kaki, tanpamu aku tak akan mampu mengumpulkan semangatku untuk hidup. Aku yakin mereka tak butuh nyanyian, puisi, ataupun tangisan yang hanya sekedar merasakan. Tapi aku berjanji akan selalu mengenang mereka, akan ku ceritakan pada keturunanku suatu saat. Kini sepuluh tahun telah berlalu, aku tinggal bersama wanita tua renta yang selama ini memberikan kasih sayang yang tak sebanding dengan kasih sayang orang tua yang sangat aku butuhkan saat ini. Kedua orang tua pergi meninggalkan sedikit harta dan sejuta kerinduan. Kadang ku mengenang mereka berdua, berlinang air mataku. Kini aku tinggal di daerah pedesaan nan indah. Terdapat secuil kebahagiaan disana, temanku pun tak sedikit. Dan aku tak butuh dikasihani. Tetapi niatku untuk bersekolah tak pernah padam, pagi hari orang-orang telah menungguku untuk membagikan koran. Bermodalkan sepeda bekas leluhurku, aku melewati jalan sempit dan berbatu tak jarang pula aku menemui masalah.